A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: public/Readmore.php

Line Number: 37

Backtrace:

File: /home/mankota1/public_html/application/controllers/public/Readmore.php
Line: 37
Function: _error_handler

File: /home/mankota1/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

DRAMA KOLOSAL REVOLUSI JIHAD SISWA MAN 1 KOTA MADIUN, MENGAJARKAN KITA LAHIRNYA HARI SANTRI NASIONAL | MAN 1 KOTA MADIUN

MAN 1 KOTA MADIUN

Jl. Soekarno Hatta No.68B

GALI POTENSI RAIH PRESTASI

DRAMA KOLOSAL REVOLUSI JIHAD SISWA MAN 1 KOTA MADIUN, MENGAJARKAN KITA LAHIRNYA HARI SANTRI NASIONAL

Selasa, 23 Oktober 2018 ~ Oleh admin1 ~ Dilihat 28 Kali

MADIUN  (MAN 1 Kota Madiun)  – Hari Santri jatuh pada 22 Oktober. Upacara Hari Santri yang digelar, Senin (22/10) di Alun-alun Kota Madiun. Tak sekedar upacara, berbagai kegiatan juga mengemuka. Salah satunya, teatrikal pelajar MAN 1 Kota Madiun yang membawakan cerita Revolusi Jihad 73 tahun silam.

Revolusi Jihad ini erat kaitannya dengan lahirnya Hari Santri. Deklarasi Revolusi Jihad dilakukan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari di Surabaya pada 22 Oktober 1945 silam. Deklarasi bukan sekedar kesepakatan. Namun, pelecut semangat para santri untuk ikut berjuang mencegah tentara Belanda yang kembali ingin menguasai tanah air melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Rangkaian cerita ini dikemas apik dalam treatikal pelajar MAN 1 Kota Madiun. Cerita diawali dari kisah sebelum munculnya revolusi. Sejumlah penari mengenakan topi caping menggambarkan kondisi umat muslim pada waktu itu. Yakni, kesederhanaan hidup, minimnya pendidikan, serta sulitnya memiliki kualitas yang memadai.

‘’Kondisi ini melecut para kiai untuk mendirikan pesantren. Tujuannya, untuk membekali pemuda akan ilmu kanuragan dan agama,’’ kata Sukarti, salah seorang guru MAN 1 yang juga narator teatrikal.

Langkah ini jelas tak disukai Belanda. Pondok pesantren disatroni. Sejumlah santri dilukai. Bahkan, ada yang dibunuh. Kesombongan tentara Belanda mengemuka. Santri yang terluka ditinggal begitu saja. Para kiai tiba memberikan pertolongan. Kebiadapan ini memantik reaksi keras pada ulama dan kiai. Tepat pada 22 Oktober 1945 dibawah pimpinan Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab dan tokoh ulama Jawa Timur dan Madura mengadapat rapat besar. Tujuannya, jelas memikirkan keadaan negara dan santri tentunya.

‘’Rapat juga untuk menjawab pertanyaan Presiden Soekarno tentang hukum melawan Belanda dalam mempertahankan kemerdekaan. Maka lahirnya Revolusi Jihad yang berisi pernyataan melawan penjajah dengan berperang,’’ imbuhnya.

Belanda akhirnya dapat dipukul mundur dengan persatuan dan tekad para santri bersama pejuang tanah air. Kemerdekaan berhasil dipertahankan hingga kini. Semangat perjuangan santri ini terus dikobarkan dalam setiap peringatan Hari Santri. Hingga Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keppres 22/2015. (Jt Mansa)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs.Imam Tafsir,M.Pd

Assalamualaikum Wr. Wb                  Puji Syukur Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT,…

Selengkapnya

TAUTAN